Selasa, 08 Juli 2014

Wisata Alam Borneo Masih Menunggu Keajaiban

: Yanni Kal-Sel 

Wisata Alam Borneo/(terutama Loksado) Menunggu Keajaiban Masa Emas Industri wisata kita kini tinggal kenangan, Jeram Loksado - Amandit tak terlihat liar lagi menghilirkan Wisatawan Mancanegara, jalan raya mulus yang kita hamparkan, hotel dan cottages serta fasilitas yang kita bangun seakan tak lagi menarik Wisman.. Promosi, road show, simposium, seminar seakan hanya memberikan jarum tumpul untuk merenda kembali kejayaan itu. Jaman telah berubah Era wisata massal telah berakhir diperparah pula oleh pembabatan hutan yang tak terkendali, maraknya demo bagian dari reformasi kebablasan, bencana bertubi-tubi, Bom Bali dan beberapa seri yang mengikutinya membuat usaha wisata kita sekarat. Adakah harapan dan keajaiban yang mengangkat kembali pariwisata sebagai kekuatan ekonomi yang tak pernah habis ? Lokalkan pikiran namun bertindaklah global. 

Berbeda dengan hutan dan tambang jika dieksploitasi akan habis dan sangat sulit untuk pulih, Pariwisata adalah sumber daya ekonomi yang seakan tak pernah habis. Data Pariwisata Dunia menunjukkan tahun 2005 hampir 1 Milyar manusia berpergian ke luar Negeri (WTO 2005) jika keadaan ini diasumsikan 10 % yang melakukan wisata maka akan dapat mempekerjakan lebih dari 130 juta orang dengan penghasilan lebih dari 3 Trilyun US $ Dollar. Jika pariwisata Loksado mampu mengambil bagian 1 orang per 50.000 Turis saja maka akan tercipta lapangan kerja untuk 65.000 orang dan akan menghasilkan dana setara Rp 1,3 Trilyun Rupiah sungguh jumlah yang fantastis. 

Pasar wisata telah berubah, konsumennya lebih bepengalaman, lebih berpendidikan, lebih mencintai lingkungan dan budaya setempat bahkan lebih kaya. Konsumen baru ini tidak hanya sekedar mencari cahaya dan mandi matahari atau sekedar mencari kesenangan baru yang berbeda sebagai bentuk pelarian dari rutinitas sehari-hari yang dibatasi waktu dan musim. Tetapi lebih kearah perpanjangan hidup yang santai, melibatkan diri dan menghayati nilai-nilai baru bukan pembenaran terhadap nilai yang mereka anut (“Barat”). Sehingga mereka cenderung menjadi bagian atau terlibat dengan masyarakat setempat dan menjadikan lingkungan sebagai Harta Karun. 

Semangat membangun (developmentalism) pariwisata dimasa lalu terkadang melebihi kebutuhan pasar dan kapasitas industri pariwisata. Tidak jarang ditemukan jalan raya yang mulus (high way) atau fasilitas eksotis (asing) terbangun ditengah hutan atau komunal adat tertentu. Hal ini terkadang paradok dengan kebutuhan wisata petualangan dan budaya. Maka dibutuhkan model pariwisata yang menggabungkan semua unsur termasuk budaya lokal dan kelestarian lingkungan. 

Kemudahan akses tanpa didukung oleh proses sosialisasi dan internalisasi nilai-nilai kepariwisataan menjadikan Desa dan Komunal adat ditarik arus centripetal modernisasi sehingga Desa dan Kumunal adat dan mulai kehilangan ciri khasnya. Atap Balai Adat suku dayak yang dahulu berbasis kayu tradisional telah berubah dipasangi seng dan asbes sehingga berkurang nilai intrinksiknya. Lemahnya dokumentasi dan promosi syair dan budaya bertutur semakin membuat rentan ketahanan aset budaya yang dimiliki. Kearifan pertanian tradisional mandiri dan otonom mulai tergantikan dengan tekhnologi yang sudah hampir pasti tidak ramah lingkungan, mekanisasi, pupuk, pestisida, bibit berlabel yang menimbulkan ketergantungan. Bentuk-bentuk makanan tradisional yang sarat unsur organik secara sistematis tergantikan oleh Mi Instant dan makanan pabrikan lainnya (junk food). Alam Lokasado yang dahulunya bersih dan sakral bisa saja dengan kemudahan akses oleh wisatawan lokal yang kurang peduli lingkungan berubah menjadi tempat sampah baru. Kemudahan akses juga dimanfaatkan oleh oknum untuk memudahkan logging sumber daya hutan ke perkotaan. 

Pangsa pasar pariwisata di Millenimum ini telah berubah dan tersegmentasi dengan tajam sehingga wisata massal dan homogen tidak lagi menjadi primadona. Pembangunan Hotel dan prasarana Wisata yang megah dan mewah pada masa ini bukanlah pilihan yang tepat dan bijak. Tingginya suku bunga, mahalnya bahan baku, upah buruh dan tekanan lingkungan dan prospek pasar merupakan kendala utama. Oleh karena itu dibutuhkan inovasi pengembangan pariwisata yang nilai investasinya rendah, berprospek pasar yang cerah dan melibatkan potensi ekonomi stake holder sebanyak mungkin. Semakin banyak masyarakat yang terlibat dalam pengelolaan pariwisata maka akan semakin merata distribusi nilai-nilai ekonomi yang ditimbulkannya. Pengembangkan potensi-potensi lokal menjadi sesuatu yang unik, menarik haruslah terus memberi visi pariwisata yang dibangun. Misalnya Pertanian tradisional yang arif dan organik (local content) serta otonom ternyata lebih rasional dari revolusi hijau yang selama ini diagungkan, bukankah revolusi hijau membuat ketergantungan baru (neokolonialisme). Sehingga dapat disimpulkan berpikir lokal bukan berarti ketinggalan jaman, tidak gaul dan tidak model asal kita mampu memberikan karakter arif dan oganik dalam setiap tindakan kita. Upaya nafas buatan untuk pariwisata yang sedang sekarat ini diantaranya : 

1. Kembalikan Desa atau komunal adat ke aslinya sebagai kesatuan adat yang mempunyai tipikal dan sifat lokasional yang bersumber daya lokal. Balai Adat, Rumah panggung atau fasilitas adat lainnya, merupakan tempat etalase atau tempat jualan wisata sehingga corak dan tatanan yang mengikutinya haruslah dijaga keaslian dan keasriannya. Orang dayak ataupun masyarakat adat lain boleh saja mempunyai rumah dengan model Spanish, Yunani, Itali (eropah kontinental), arabian dan lainnya tapi tempatnya bukan di Daerah Tujuan Wisata 

2. Pelestarian lingkungan, pencegahan pembalakan merupakan kebutuhan, pelibatan masyarakatan adat dan Lembaga Swadaya Masyarakat yang konsen dengan Adat dan Lingkungannya (Community Based Development). merupakan bagian usaha wisata. disamping itu perlu dipikirkan relokasi tempat wisata untuk wisatawan lokal yang kurang mencintai lingkungan. Dengan Kata lain diperlukan semacam hutan pendidikan sebelum wisatawan lokal (“awam”) memasuki hutan asli perawan karena hutan perawan tidak sembarang orang dapat memasukinya. 

3. Kembalilah memakan makanan tradisional organik dan sehat, pais pisang, pais sagu, apam batil, katupat, dodol, apam paranggi, cindul sagu dan sejenisnya kita kurangi ketergantungan dengan makanan olahan yang tidak sehat (junk food). 

4. Pengembangan paket wisata haruslah terintegrasi dimana masing-masing Daerah tidak berdiri sendiri melainkan sebagai sebuah kesatuan. Contohnya Paket Wisata Loksado haruslah terintegrasi dengan objek ataupun atraksi wisata daerah lain misalnya dengan petualangan hutan asli meratus di Batang Alai dan Balangan, kesenian bagandut dari Rantau, wisata kerbau rawa di Amuntai, pendulangan Intan, pasar terapung, agrowisata di Marabahan, Pleihari, memancing di Kotabaru dan potensi wisata lainnya.. 

5. Go Global sudah tersedia murah meriah yang dibutuhkan inovasi Web Site Desa atau Komunal wisata yang saling berhubungan yang selalu up to date baik untuk promosi, reservasi, calendar event dan kebutuhan lainnya. Teknologi GPRS, Telkomnet Instant, Telkom Speedy, broad band lainnya hadir dihadapan kita..

6. Rumah-Rumah adat seperti Balai, Rumah Banjar membutuhkan revitalisasi untuk menjadi situs sekaliguscore bisnis usaha wisata. Pasar-Pasar Tradisonal haruslah diberi insentif yang terbaik untuk menumbuhkan usaha ekonomi rakyat. Semoga fajar wisata borneo menyingsing lagi. 

Kandangan, 25 Juli 2006

Tidak ada komentar:

Posting Komentar