Jumat, 27 Juni 2014

PANGANTEN BANJAR BAARAK TANDU

: Arsyad Indradi 

"Adat asli jangan dibuang/Hilangakan kupakai jua/Paninggalan urang bahari/Kada lupa sampai mati” 

Nuansa dan rasa kemasyarakatan tanah Banjar sangat kental dengan adat istiadat dan tatanan leluhur , pada masa-masa lampau. Antara lain perayaan pengantin. Ada beberapa bentuk perayaan penganti, seperti Pengantin Panggung Tinggi, Pengantin Bausung, Pangantin Baarak Naga, Pangantin Baarak Sisingaan, Pangantin Baarak Tandu. Begitu pula dalam perayaan itu ada beberapa penyuguhan karasmin antara lain, Bagipang, Wayang Gung, Manuping, Basinoman Hadrah, Barabana, Baorkes, Balamut, Bajapin, Bakintung , Bakisah, Sandiwara dan Mamanda. 

Nuansa dan rasa itu sudah mulai pudar menjelang tahun 1970-an. Terutama di daerah perkotaan. Sedang di beberapa pedesaan masih terasa, tetapi ada juga yang ikut memudar. 

Banyak faktor yang menjadikan terkontaminasinya terhahadap keberadaan adat istiadat atau tatanan peninggalan leluhur “urang bahari” itu, antara lain pengaruh sosial ekonomi, dekadensi kebudayaan dan moralitas, ketidakpedulian lagi sebagian besar dari masyarakat Banjar , sebagian masyarakat Banjar yang tidak ingin repot. 

Pengaruh yang sangat besar pada zaman sekarang ini adalah arus globalisasi yang melanda hidup dan kehidupan masyarakat tanah Banjar sehingga masyarakat Banjar kehilangan kesimbangannya, kehilangan identitas “urang Banjar”nya. Walau disana sini ada juga orang mengaku “asli urang banua”, “asli urang Banjar’ atau akuan lainnya, namun semuanya itu hanya sekedar “cuma” atau “kamuflase” ? Dalam hiruk pikuknya hidup dan kehidupan masyarakatat Banjar, ada juga orang-orang Banjar yang merasa sepi,haus dan rindu terhadap adat istiadat Banjar dan lebih lagi terhadap seni dan budaya Banjar yang tenggelam itu. Dan berupaya untuk menggalinya,melestarikannya. Niat luhur ini semoga tercapai dan sukses.***

Kamis, 26 Juni 2014

KEBUDAYAAN BANJAR DALAM ANTOLOGI PUISI BURINIK KARYA ARSYAD INDRADI (PERSPEKTIF ANTROPOLOGI SASTRA)

Oleh : LARA MALINI

A. Judul
KEBUDAYAAN BANJAR DALAM ANTOLOGI PUISI BURINIK KARYA ARSYAD INDRADI (PERSPEKTIF ANTROPOLOGI SASTRA)

B. Latar Belakang
Masalah Sastra merupakan suatu bentuk dan hasil pekerjaan seni kreatif yang objeknya adalah manusia dan kehidupannya dengan menggunakan bahasa sebagai mediumnya (Semi, 1993: 8). Puisi termasuk salah satu bentuk karya sastra dan puisi merupakan suatu karya sastra yang banyak digunakan sebagai media komunikasi untuk menyampaikan pikiran dan gagasan pengarang kepada pembaca. Puisi dapat dijadikan sebagai sarana menyampaikan ekspresi jiwa dengan bahasa perlambangan yang penuh makna. 

Karya sastra tidak lepas dari kehidupan masyarakat. Sastra lahir dari proses imajinasi seorang pengarang, serta refleksinya terhadap gejala-gejala sosial yang ada disekitarnya. Oleh karena itu, kehadiran karya sastra merupakan bagian dari kehidupan masyarakat (Jabrohim, 2003: 59) dalam azzam008.blogspot.com. 

Selain itu, dalam Kamus Istilah Sastra puisi adalah gubahan dalam bahasa yang bentuknya dipilih dan ditata secara cermat sehingga mempertajam kesadaran orang akan pengalaman dan akan membangkitkan tanggapan khusus lewat penataan bunyi, irama, dan makna khusus ( Zaidan, dkk, 2007: 160). Dengan penataan bunyi, irama, dan makna khusus itulah puisi akan menjadi komposisi yang sangat bermakna, ditambah dengan adanya bahasa-bahasa persimbolan dan gaya bahasa yang indah. 

Pemahaman puisi tidak dapat dilepaskan dari latar belakang kemasyarakatan dan budayanya. Untuk dapat memberikan makna sepenuhnya kepada sebuah sajak, selain sajak dianalisis struktur intrinsiknya (secara struktural) dan dihubungkan dengan kerangka kesejarahannya, di antaranya dengan intertekstualitas, maka analisis dapat dilepaskan dari kerangka sosial-budayanya (Teeuw, 1983: 61, 62) dalam Pradopo, 2010: 254 Karya sastra itu mencerminkan masyarakat dan secara tidak terhindarkan dipersiapkan oleh keadaan masyarakat dan kekuatan-kekuatan pada zamannya (Abraham, 1981: 178) dalam Pradopo, 2010: 254. Hal ini mengingat bahwa sastrawan itu adalah anggota masyarakat, maka ia tidak dapat lepas dari pengaruh sosial-budaya masyarakatnya. Latar sosial-budaya itu terwujud dalam tokoh-tokoh yang dikemukakan, sistem kemasyarakatan, adat-istiadat, pandangan masyarakat, kesenian, dan benda-benda kebudayaan yang terungkap dalam karya sastra. (Pradopo, 2010: 254) 

Kebudayaan sebagai hasil cipta umat manusia mempunyai unsur-unsur yang bersifat universal. Unsur-unsur kebudayaan tersebut dianggap universal karena dapat ditemukan pada semua kebudayaan bangsa-bangsa di dunia, termasuk pada suku Banjar yang juga memiliki keanekaragaman budaya. Koentjaraningrat mengemukakan tujuh unsur kebudayaan yang universal itu yaitu: sistem religi,sistem kemasyarakatan atau organisasi sosial, sistem pengetahuan, bahasa, kesenian,sistem mata pencaharian atau ekonomi, dan sistem teknologi. (Koentjaraningrat) dalam http://dira.co.nr 

Jadi antara sastra dan kebudayaan dapat memiliki hubungan yang sangat erat, dimana sastra merupakan hasil dari adanya kebudayaan dan kebudayaan dapat diungkapkan menggunakan sastra melalui bahasa, dalam hal ini puisi dapat menjadi media untuk menyampaikan sebuah kebudayaan pada suatu masyarakat. Penelitian sastra dapat berfungsi bagi kepentingan di luar sastra, antara lain jika penelitian tersebut berhubungan dengan aspek-aspek di luar sastra, seperti agama, filsafat, moral, budaya, dan sebagainya. Puisi bukan memberikan petunjuk atau informasi, melainkan memberikan gambaran yang dapat mempertajam kesadaran orang dan dapat membangkitkan tanggapan orang atas apa yang dibacanya(puisi). 

Salah satu kumpulan puisi yang sangat menarik untuk diteliti mengenai kebudayaan yang tersirat di dalamnya adalah antologi puisi Burinik yang merupakan hasil karya Arsyad Indradi. Antologi Puisi ini ditulis dalam dua bahasa yakni bahasa Banjar dan bahasa Indonesia. 

Sastra Banjar adalah semua jenis karya sastra yang bercerita tentang etnis Banjar di Tanah Banjar (Kalsel) yang dilisankan atau dituliskan dalam bahasa Banjar oleh sastrawan yang berasal dari kalangan etnis Banjar yang lahir, tinggal, atau pernah tinggal di tanah Banjar. (Ganie, 2011: 4). Dalam antologi puisi ini penyair juga sangat mengandalkan tentang budaya-budaya masyarakat Banjar dan banyak menggambarkan tentang kehidupan yang dituangkan dalam bentuk puisi. 

Arsyad Indradi lahir di Barabai, 31 Desember 1949. Menyenangi sastra khususnya puisi sejak duduk di SMP dan SMA. Pada tahun 1970 ketika menjadi mahasiswa Fakultas Hukum Unlam Banjarmasin mulai menulis puisi. Puisi-puisinya banyak diterbitkan di berbagai media cetak lokal seperti di Banjarmasin Post, Radar Banjarmasin dan lain - lain dan media cetak nasional seperti Harian Republika Jakarta dan lain - lain. Sejak di SMA dan di Fakultas Hukum ikut bergabung di Lesbumi Banjarmasin dan Sanggar Budaya Kalimantan Selatan. Tahun 1972 keluar dari Lesbumi dan mengaktifkan diri di Sanggar Budaya Kalimantan Selatan. Tahun 1972 bersama Bachtiar Sanderta, Ajamuddin Tifani, Abdullah SP dan lain – lain ( mantan anggota Lesbumi ) mendirikan Teater Banjarmasin khusus menggeluti teater tradisional Mamanda. 

Antologi puisi Burinik karya Arsyad Indradi ini termasuk karya sastra Banjar yang berisi tentang etnik Banjar, ditulis dengan bahasa Banjar dan bahasa Indonesia, ditulis oleh penyair/sastrawan yang berasal dari kalangan etnis Banjar yang lahir, tinggal, atau pernah tinggal di tanah Banjar. 

Berdasarkan latar belakang di atas, maka peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian yang membahas tentang unsur - unsur kebudayaan Banjar yang terkandung dalam Antologi Puisi Burinik karya Arsyad Indradi. Dan peneliti merasa perlu untuk menggambarkan kembali bagaimana budaya Banjar yang nampaknya sudah mulai terkikis oleh zaman sehingga dapat peneliti paparkan kembali dalam penelitian ini sebagai bentuk rasa cinta dan penghargaan terhadap budaya Banjar. 

C. Rumusan Masalah 
Berdasarkan latar belakang masalah yang dipaparkan di atas, maka rumusan masalah yang diteliti sebagai berikut: 

1. Bagaimana bahasa yang digunakan dalam antologi puisi Burinik karya Arsyad Indradi? 
2. Bagaimana sistem religi yang terdapat dalam antologi puisi Burinik karya Arsyad Indradi? 
3. Apa saja kesenian yang terdapat dalam antologi puisi Burinik karya Arsyad Indradi?
4. Bagaimana sistem mata pencaharian yang terdapat dalam antologi puisi Burinik karya Arsyad Indradi? 
5. Apa saja sistem peralatan hidup/teknologi yang digunakan dalam antologi puisi Burinik karya Arsyad Indradi? 

 D. Tujuan Penelitian 
Sesuai dengan perumusan masalah yang telah dikemukakan di atas, maka penelitian ini dilakukan dengan tujuan sebagai berikut : 
1. Mendeskripsikan bahasa yang digunakan dalam antologi puisi Burinik karya Arsyad Indradi.
2. Menentukan sistem religi yang terdapat dalam antologi puisi Burinik karya Arsyad Indradi
3. Mengemukakan kesenian yang terdapat dalam antologi puisi Burinik karya Arsyad Indradi
4. Mendeskripsikan sistem mata pencaharian yang terdapat dalam antologi puisi Burinik karya Arsyad Indradi
5. Memaparkan sistem peralatan hidup/teknologi yang digunakan dalam antologi puisi Burinik karya Arsyad Indradi

E. Manfaat Penelitian
Dari hasil penelitian ini, peneliti berharap agar dapat memberikan manfaat sebagai berikut : Bagi peneliti :
1. Menambah wawasan dalam mengaplikasikan pengetahuan yang telah didapat dari perkuliahan, untuk diwujudkan dalam karya tulis ilmiah.
2. Penelitian ini memberikan pengalaman langsung dalam mengapresiasi karya sastra, khususnya antologi puisi Burinik karya Arsyad Indradi
3. Peneliti dapat mengambil nilai kehidupan dari isi dan unsur-unsur budaya yang terdapat dalam antologi puisi Burinik karya Arsyad Indradi

Bagi pembaca :
1. Hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu mengetahui unsur-unsur kebudayaan yang terkandung dalam antologi puisi Burinik karya Arsyad Indradi 
2. Jika pembaca ingin meneliti lebih lanjut, hasil penelitian ini dapat dijadikan referensi untuk melaksanakan penelitian yang lebih mendalam

F. Landasan Teori
1. Pengertian Kebudayaan Kebudayaan berasal dari kata “budaya”, yang berasal dari kata Sansekerta “budhayah”, sebagai bentuk jamak dari budhi, yang berarti budi atau akal. Kebudayaan adalah hal-hal yang bersangkutan dengan budi atau akal. Koentjaraningrat memberikan pengertian kebudayaan sebagai “ keseluruhan dari hasil budi dan karyanya itu”. Atau dengan kata lain bahwa Kebudayaaan itu adalah keseluruhan dari apa yang pernah dihasilkan oleh manusia karena pemikiran dan karyanya. Jadi kebudayaan merupakan produk budaya.(Sudibyo, dkk. 2013: 29)

Kebudayaan adalah hasil kegiatan dan penciptaan batin (akal budi) manusia seperti kepercayaan, kesenian, dan adat istiadat ; keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakan untuk memahami lingkungan serta pengalamannya dan menjadi pedoman tingkah lakunya (Kamus Besar Bahasa Indonesai) 

Tujuh unsur kebudayaan menurut Koentjaraningrat yaitu:
1) Sistem religi yang meliputi: sistem kepercayaan, sistem nilai dan pandangan hidup, komunikasi kegamaan, upacara keagamaan,
2) Sistem kemasyarakatan atau organisasi sosial yang meliputi : kekerabatan, asosiasi dan perkumpulan, sistem kenegaraan, sistem kesatuan hidup,
3) Sistem pengetahuan meliputi: flora dan fauna, waktu, ruang, dan bilangan, tubuh manusia dan perilaku antar sesama manusia,
4) Bahasa yaitu alat untuk berkomunikasi berbentuk: lisan dan tulisan,
5) Kesenian yang meliputi: seni patung/ pahat, relief, lukis dan gambar, rias, vokal, musik, bangunan, kesusastraan, drama,
6) Sistem mata pencaharian atau sistem ekonomi yang meliputi: berburu dan mengumpulkan makanan, bercocok tanam, peternakan, perikanan, perdagangan,
7) Sistem teknologi meliputi: produksi,distribusi, transportasi, peralatan komunikasi, peralatan konsumsi dalam bentuk wadah, pakaian dan perhiasan, tempat berlindung dan perumahan, senjata.

Adapun dalam penelitian ini unsur-unsur kebudayaan yang akan dikaji dalam Antologi Puisi Burinik karya Arsyad Indradi meliput : bahasa, sistem religi, kesenian, sistem mata pencaharian hidup/ sistem ekonomi, dan sistem teknologi.

2. Pengertian Antologi
Antologi adalah kumpulan karya tulis pilihan dari seseorang atau beberapa orang pengarang. (Kamus Besar Bahasa Indonesai).

3. Pengertian Puisi
Puisi adalah ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama,matra, rima, serta penyusunan larik dan bait ; gubahan dalam bahasa yang bentuknya dipilih dan ditata secara cermat sehingga mempertajam kesadaran orang akan pengalaman hidup dan membangkitkan tanggapan khusus lewat penataan bunyi, irama dan makna khusus ; sajak (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Tarigan (1984: 4) menuliskan bahwa istilah puisi berasal bahasa yunani poesis yang berarti penciptaan. Puisi dalam bahasa inggris disebut poetry yang berarti puisi, poetberarti penyair, poem berarti syair (sajak). 

Namun lama kelamaan istilah puisi semakin menyempit maknanya, yakni sebagai istilah untuk menyebut salah satu genre/ jenis karya sastra dengan bentuk fisik dan bentuk mental tertentu yang bersifat khas. Puisi sebagai salah satu bentuk kreasi menggunakan bahasa, sebagai media pemaparnya. Tetapi berbeda dengan bahasa yang digunakan sehari-hari, bahasa dalam puisi menurut Djojosuroto (2005: 12) memiliki kekhasan tersendiri. Disebut demikian karena bahasa dalam puisi merupakan bentuk idiosyncratic di mana tebaran kata yang digunakan merupakan hasil pengolahan dan ekspresi individual pengarangnya. (Ganie, 2013:47) 

4. Pengertian Antropologi Sastra 
Secara definit antropologi sastra adalah studi mengenai karya sastra dengan relevansi manusia ( anthropos ). (Ratna, 2011: 351). Antropologi sastra merupakan ilmu sosial humaniora mempermasalahkan manusia dan kebudayaannya. Secara praktis antropologi sastra diharapkan dapat membantu memperkenalkan khazanah sastra yang terpencil dan terisolasi, yang secara tidak langsung berarti telah membantu pemahaman ‘bhinneka tunggal ika’.(Ratna, 2011: 358) 

G. Metode dan Teknik Penelitian 

1. Pendekatan Penelitian 
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan antropologis yaitu pendekatan yang digunakan dalam penelitian sastra dengan mendeskripsikan struktur inti sebuah karya sastra dan menerangkan unsur-unsur kebudayaan Banjar yang terkandung dalam puisi. 

2. Metode Penelitian 
Metode yang digunakan dalam penelitian yang berjudul Analisis Kebudayaan Banjar dalam antologi puisi bahasa Banjar Burinik karya Arsyad Indradi ini adalah metode deskriptif analitik, yaitu mendeskripsikan data yang ada melalui dokumentasi karya sastra. 

3. Variabel Penelitian 
Variabel yang digunakan dalam penelitian ini terbagi dalam sub variabel dan indikator yang dijabarkan dalam bentuk tabel. 
Tabel 1 Variabel Penelitian 
Variabel Sub Variabel Indikator Kebudayaan Banjar
1. Bahasa 
2. Sistem religi 
3. Kesenian 
4. Sistem mata pencaharian hidup 
5. Sistem teknologi
a. bahasa Indonesia 
b. bahasa Banjar 
a. sistem kepercayaan 
b. upacara keagamaan 
a. peribahasa / ungkapan 
b. kesenian Banjar
a. mendulang intan 
b. perdagangan di Pasar Tarapung 
a. alat transaksi jual beli 
c. alat-alat rumah tangga 
d. alat-alat kesenian 
e. alat-alat upacara keagamaan 

4. Data dan Sumber Data 
Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini berupa Kebudayaan Banjar yang terdapat dalam antologi puisi Burinik karya Arsyad Indradi. Antologi puisi Burinik karya Arsyad Indradi, antologi puisi ini ditulis dalam dua bahasa yakni bahasa Banjar dan bahasa Indonesia, namun penulis memilih akan meneliti puisi-puisi bahasa Indonesia sebanyak 10 puisi dan meneliti unsur-unsur kebudayaan yang terkandung di dalam 10 puisi tersebut baik unsur budaya berupa bahasa, sistem religi, kesenian, sistem mata pencaharian hidup/ sistem ekonomi, dan sistem teknologi. 

Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah antologi puisi yang berjudul Burinik karya Arsyad Indradi yang diterbitkan oleh Kelompok Studi Sastra Banjarbaru Kalimantan Selatan pada tahun 2009 (cetakan pertama). Antologi puisi Burinik karya Arsyad Indradi ini memuat 37 puisi. Adapun judul-judul puisi yang dijadikan sebagai sumber data, ada 10 puisi yaitu: 
1) Bustan 
2) Pengantin Banjar 
3) Pengantin Berusung 
4) Minyak Balian 
5) Tahadangi Buah Bungur 
6) Baahuy 
7) Badudus 
8) Burinik 
9) Pasar Terapung 
10) Sandah 
11) Negeriku seribu sungai 
12) Pendulang intan 
13) Pemilu 
14) Hargai punya negeri sendiri 
15) Katia 
16) Buah Sukma Biduri 

5. Teknik Penelitian 
1. Teknik Pengumpulan Data Teknik yang digunakan untuk memperoleh data adalah teknik dokumentasi kepustakaan. Pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mengumpulkan bahan tertulis yang berkaitan langsung dengan objek penelitian dalam bentuk karya tertentu disebut teknik dokumentasi. Adapun langkah-langkah pengumpulan data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: • Membaca buku antologi puisi yang akan diteliti secara utuh dan tuntas • Menentukan data yang sesuai dengan objek penelitian • Dianalisis kembali data yang sudah ditentukan tersebut agar benar-benar sesuai dengan objek kajian • Menemukan unsur-unsur kebudayaan yang terdapat dalam puisi 

2. Teknik Analisis Data 
Untuk menganalisis data dilakukan tahap sebagai berikut: 
a. Persiapan 
Pada tahap persiapan peneliti melakukan kegiatan, 
• Mengumpulkan bahan dokumentasi dan bahan pustaka mengenai penelitian sastra. 
• Meneliti bahan dokumentasi dan bahan pustaka mengenai puisi yang akan diteliti 
• Menyusun rencana penelitian mengenai analisis kebudayaan dalam puisi yang diteliti 

b. Pelaksanaan Kegiatan penelitian yang dilakukan pada tahap ini adalah, 
• Memilih puisi yang akan diteliti, yakni puisi yang mengandung unsur-unsur kebudayaan masyarakat Banjar (perspektif antropologi sastra) 
• Menemukan unsur-usur kebudayaan Banjar yang terdapat dalam puisi yang menjadi sumber data.
c. Penyelesaian Kegiatan penelitian yang dilakukan pada tahap ini antara lain, 
• Menyusun laporan hasil penelitian 
• Memperbaiki laporan hasil penelitian 

6. Jadwal Penelitian 
Penelitian ini dijadwalkan selama enam bulan, yakni sejak Maret 2014 sampai bulan Agustus 2014 dengan tahapan-tahapan sebagai berikut: Tabel 2 Jadwal Penelitian No Kegiatan 2014 Maret April Mei Juni Juli Agustus 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 
1 Persiapan
2 Pengumpulan data
3 Penyusunan proposal
4 Seminar proposal
5 Konsultasi dan penyusunan
6 Ujian
7 R elevan

H. Daftar Rujukan
azzam008.blogspot.com
Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta:PT.Gramedia Pustaka Utama.

Endraswara, Suwardi. 2003. Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta:Pustaka Widyatama.

Ganie, Noor Tajudin. 2011.Sastra Banjar Genre Lama Bercorak Puisi.Banjarmasin: Rumah Pustaka Karya Sastra (RPKS) Pusat Pengkajian Masalah Sastra (PUSKAJIMASTRA)

Hapip, Abdul Djebar. 2008.
Kamus Banjar Indonesia. Banjarmasin: CV. Rahmat Hafiz Al Mubaraq.

http://dira.co.nr Indradi,
Arsyad. 2009. Burinik. Banjarbaru: Kelompok Studi Sastra Banjarbaru Kalimantan Selatan.

Pradopo, Rachmat Djoko. 2010. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Ratna, Nyoman Kutha. 2011. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 

Semi,M Atar.1993.Anatomi Sastra.Padang:Angkasa Raya.

Sudibyo, Lies, dkk.2013.Ilmu Sosial Budaya Dasar.Yogyakarta:CV.Andi Offset.

Sulistyowati Endang, Tarman Effendi Tarsyad.2009.Pengkajian Puisi:Teori dan Aplikasinya.Banjarmasin:Tahura Media.

Tim Penyusun.2013.Pedoman Penulisan Skripsi.Banjarmasin:STKIP PGRI Banjarmasin.

Zaidan, Abdul Rozak,dkk.2007.Kamus Istilah Sastra.Jakarta:Balai Pustaka

KEBUDAYAAN BANJAR DALAM ANTOLOGI PUISI BURINIK KARYA ARSYAD INDRADI (PERSPEKTIF ANTROPOLOGI SASTRA)
PROPOSAL SKRIPSI OLEH LARA MALINI NPM 30610D1020
Mahasiswa STKIP PGRI Banjarmasin, jurusan Bahasa Indonesia dan Sastra

Melirik Pantun Banjar

Oleh : Arsyad Indradi 

Masyarakat Banjar tempo dulu (bahari) sangat gemar berpantun sampai sekarang ini. Yang lebih menggembirakan bukan saja orang – orang tua tetapi juga kaula muda Tanah Banjar masih tetap menggemari pantun bahkan akan tetap melestarikannya. 

Struktur pantun Banjar seperti halnya pantun Indonesia lama atau pantun Melayu yang bersetruktur : baris pertama dan kedua adalah sampiran, baris ketiga dan keempat adalah isi. Jumlah suku katanya baris pertama sama dengan baris ketiga dan baris kedua sama dengan baris keempat. Atau jika terjadi selisih suku katanya tidak lebih dari dua suku kata. Atau dari baris pertama, kedua, ketiga dan keempat sama jumlah suku katanya. Rima persajakan pada pantun Banjar ada yang berima (a),(b),(a),(b), ada pula yang berima (a),(a),(a),(a) dan (a),(a),(b),(b). 

Terkadang pantun Banjar ada yang unik, mirip dengan syair yakni baris – barisnya hampir tidak dapat dibedakan sampiran dan isi dan rima sajaknya (a),(a),(a),(a). Yang lebih unik lagi apabila pantun ini merupakan lirik dari lagu atau nyanyian yakni terjadi pengulangan baris sehingga menimbulkan bunyi dan irama yang harmonis. Demikian pula ada pantun lagu yang terdiri dari enam baris yang persajakannya (a),(b),(c),(a),(b),(c). 

 Pantun Banjar ada lima ragam :

 I. Ragam Pantun Banjar Biasa Seperti Pantun Agama, Pantun Adat Istiadat, Pantun Badatang, Baturai Pantun, Panglipur, Papujian, Balolocoan, Marista, Pantun Insyaf, Pantun Bacucupatian, Pantun Urang Anum, Pantun Kakanakan 
II. Ragam Pantun Banjar Pantun Tarasul
III. Ragam Pantun Banjar Sebagai Lirik Lagu atau Nyanyian
 IV. Ragam Pantun Banjar Sebagai Pengiring Tarian
 V. Ragam Pantun Wayahini

 I. Ragam – Ragam Pantun Banjar Biasa
 1. Pantun Agama
 Pantun agama ini merupakan pantun yang berisi tentang keagamaan (relegiusitas), tuntunan bagaimana  menjalankan syariat islam.

 Luruk banyu ka dalam bulanai
 Gasan mangurung si iwak patin
 Islam nitu agama nang damai
 Damai di lahir damai di batin

 2. Pantun Adat Istiadat
 Pantun Adat Istiadat ini adalah ragam pantun yang membimbing atau berupa nasihat agar bertingkahlaku, sopan santun, berahlak yang baik terhadap orang tua, pada seseorang baik terhadap yang muda mau pun yang tua, juga dalam tatanan bermasyarakat. 

Puhun gambir di dalam hutan
Andaknya di padang sabat
Amun bapandir lawan kuitan
Baucap nitu bagamat-gamat

 3. Pantun Badatang (meminang)
Pantun Badatang ini berisikan suatu tuntutan menagih janji berupa pinangan pria kepada pihak si perempuan. Kadang kala meminang ini terjadi berbalas pantun antara pihak pria dan pihak perempuannya.

 Pihak pria : 
Apa habar bayan manari
Katutut bajalan malam
Apa habar datang kamari
Manuntut janji samalam

Pihak perempuan : 
Katutut burung katutut
Katutut basaung buntut
Lamun ada judu manuntut
Urang tuha bisa mamatut

 4. Baturai Pantun
Pantun ini adalah pantun bersahut – sahutan atau berbalas pantun. Setelah istirahat melakukan panen padi atau juga kaula muda berkumpul – kumpul di rumah pengantin sebelum atau sesudah acara mempelai bersanding. Juga acara khusus baturai pantun disuatu tempat yang diselenggaran oleh panitia dalam rangka perayaan baik peringatan hari besar nasional mau pun daerah. Baturai pantun dilakukan baik sepasang atau berkelompok. ( Biasanya dimulai oleh seseorang dari penyelenggara ) 

Mamuai wanyi tangkainya runtun
Wanyi dipuai di atas gunung
Mari kita baturai pantun
Mahaur-haur hati nang bingung

 5. Pantun Panglipur
 Pantun ini berisikan suatu ujaran menghibur seseorang yang sedang gundah gulana atau memberikan  semangat dimana seseorang sedang berduka.

Itam-itam tampuk palawi
Kamuning luruh bunganya
Itam-itam lawan panggawi
Putih kuning apa gunanya

6. Pantun Papujian
Pantun ini berisikan pujian terhadap seseorang karena keelokan rupa atau baiknya tingkah laku.

Pulau Alalak malang malintang
Wadah Diang-Galuh mancari undang
Mata galak nangkaya bintang
Saparti amas hanyar dituang

7. Pantun Balolocoan
 Pantun Balolocoan adalah pantun berisikan kelucuan yang menjadikan tertawa.

Amas mirah intan sakerat
Kapal di laut gedung di darat
Mambuka pender pina harat
Tapih bakarut baju bajarat

8. Pantun Marista
Pantun ini berisikan gundah gulananya hati atau sesuatu yang membuat menjadi sedih dan duka. Demikian juga merasakan sudah garisan nasip.

Anak itik umanya angsa
Inya mancucur lumut di batu
Jangan ditilik urang babangsa
Tilik akan dagang piatu

9. Pantun Insyap
Pantun ini berisikan seseorang yang telah menyadari kesalahannya selama ini. Ia akan memperbaiki kesalahan itu.

Tuan haji baju babalah
Balinjang-linjang di luar kuta
Mangaji mamuji Allah
Sambahyang mambuang dusa

10. Pantun Bacucupatian
Pantun Bacucupatian adalah pantun tebak – tebakan atau bisa juga disebut pantun teka – teki.

Urak lampit tikarnya purun
Tikar diurak di lantai batu
Disambat naik tanapi turun
Ayu tangguh nangapa nitu

11. Pantun Urang Anum
Pantun ini berisikan cinta kasih muda mudi.

Ungut – ungut burung pialing
Ka Kandangan jalan ka Gambah
Ungut – ungut bapiragah garing
Karindangan supan bapadah

12. Pantun Kakanakan
Pantun kakanakan ini berisikan dunia anak – anak. Seperti sedang bermain dan bersenda gurau. Pantun yang merupakan bermain-main ini sering terdapat baris – baris yang unik. Keunikan ini di luar struktur yang pada umumnya. Disini terdapat persajakan dimana tersebar pada baris – barisnya. Pantun merupakan dendang menidurkan anak sudah lazim digunakan oleh orang-orang tua. Pantun kakanakan ini ada yang hanya terdiri dari dua baris. 

Ungga - ungga apung Apung sinali-nali
Talipat daun bakung Raja punai raja wali 

II. Ragam Pantun Banjar : Pantun Tarasul (Surat Tarasul)
Sesungguhnya pantun itu sangat mengasyikkan. Apalagi pada zaman dahulu di masyarakat Banjar (Kalsel) pantun sangat digemari. Biasanya orang yangdianggap berbudi bahasa yang baik adalah mereka yang pandai berpantun. Tapi di zaman sekarang ini, zaman modern atau zaman globalisasi ini pantun sudah mulai terdesak. Orang sudah tidak ingat lagi bahkan tak pernah tahu terutama generasi muda Banjar apa yang dinamakan “pantun tarasul “. Pantun Tarasul “ adalah suatu bentuk surat berpantun yang berisikan cinta asmara. Seorang pemuda yang jatuh cinta kepada seorang pemudi, maka ia akan mengutarakan isi hatinya dalam lembaran kertas bertulis sebagai pengganti dirinya untuk disampaikan kepada sang pujaan. Kertas itu biasanya berupa kertas yang memanjang dari 1 meter sampai 2 meter. Sekeliling kertas itu dilukis dengan beraneka bunga. Setiap bunga punya makna tersendiri, seperti bunga melati artinya suci, mawar berarti cinta yang tak berhingga, cempaka artinya tanda penghormatan, kenanga artinya sama-sama cinta. Bunga “ kenanga “ ini adalah sebagai jawaban surat tarasul dari sang pemudi tanda penerimaan cintanya dan bila hatinya tak berkenan maka “ cempaka “lah jawabnya. Pada bagian muka di atas surat tarasul ada lukisan seekor naga dan seekor ular lidi. Gambar ini merupakan simbol percintaan antara pemuda dan pemudi. Naga simbol pemuda dan ular lidi simbol pemudi. 
Contoh pantun tarasul, seperti ini :

Dengan babal si hina tani
Datang ka arapan kumala ingsani
Tunduk menghadap junjungan yang gani
Seraya bermedah di bawah ini

Wahai kumala ratna cumarna
Muhun diampuni tani yang hina
Menguraikan warta sedikit rencana
Muga disudikan penarimaan yang sempurna

Surat tarasul ini sebelum dikirim pada alamatnya terlebih dahulu di ukup dengan dupa kemenyan serta diberi harum-haruman berupa minyak wangi. Setelah itu digulung dan diikat dengan benang emas atau benang sutra. Biasanya penulis ini memakai nama samaran, kecuali sipengantar surat yang akan memberitahukan nama aslinya kepada yang dituju. *** 

III. Ragam Pantun Banjar Sebagai Lirik Lagu atau Nyanyian
Pantun Banjar sebagai hasil Sastra Banjar merupakan cermin masyarakat Banjar. Lirik- lirik yang tersusun dalam Pantun banjar tampak terlihat alam budaya masyarakat Banjar. Pantun Banjar masih bertahan hidup dalam masyarakat banjar terutama lirik pantun merupakan lirik lagu – lagu banjar . Lirik – lirik pada Pantun Banjar sebagai Lirik lagu ada yang unik. Sebab ada suku kata yang tidak sama jumlah pada baris – barisnya dan ada lirik atau barisnya yang diulang atau penggalan lirik merupakan pengulangan untuk mematut irama sehingga menimbulkan harmonisasi dalam jalinan lagu tersebut. 

( Pada lagu Gandut Janiah )

Aku tahu si sarang warik
Sarang warik di pinggir hutan
Aku tahu si urang sarik
Urang sarik baparangutan

IV. Ragam Pantun Banjar Sebagai Pengiring Tarian Lagu
Pantun yang mengiringi tarian Banjar umumnya berupa Pantun Urang Anum yaitu pantun percintaan muda-mudi atau Pantun Nasib. Beberapa lagu pantun Banjar sebagai pengiring tarian Banjar, antara lain :

 ( Pada Tari Tirik kuala)

Pucuk pisang daunnya layu
Kamana jua maambunakan
Kuhadang hadang kadada lalu
Kamana jua manakunakan

V. Ragam Pantun Wayahini
Di dalam masyarakat sekarang ini terutama di kaula muda Tanah Banjar, pantun mendapat perkembangan berupa Pantun Modern, bahasa Banjarnya Pantun Wayahini. Terkadang bahasanya terpengaruh bahasa gaul.
Iwak karing ditanggung kucing
Kucing disipak tapulanting
Biar ulun duitnya karing
Tapi ulun tatap i love u darling.

 Mayang pinang taandak tinggi
Naik tangga bapingkutan pagar
Kada gampang handak babini
Mun kadada duit 10 M paraya jar

 Banjarbaru, 20 Juni 2014
 Catatan : “Melirik Pantun Banjar “ ini akan diterbitkan dengan dilengkapi 1000 pantun Banjar.

Jumat, 15 Juni 2012

Revolusi Budaya

Oleh : Kim Loladis
Photographer : Ahmad Joe

Melihat perilaku generasi muda saat ini mungkin kita akan menghela nafas panjang, apakah budaya kita saat ini telah berevolusi? Mungkin benar, revolusi budaya saat ini seakan begitu deras mengikis secara perlahan akar budaya bangsa Indonesia, baik budaya bahasa moral serta agama.
Banyak factor yang menyebabkan budaya local dilupakan di masa sekarang ini. Masuknya budaya asing ke Indonesia sebenarnya merupakan hal yang wajar, asalkan budaya tersebut sesuai dengan kepribadian bangsa. Namun pada kenyataanya budaya asing mulai mendominasi sehingga budaya local mulai dilupakan.

Suatu ironis kebudayaan sendiri dijauhi oleh anak muda sekarang. Tidak habis piker mengapa kaum muda sekarang lebih suka ala boyband/girlband, seksi dancer, hip hop yang sama sekali tidak mencerminkan ciri khas budaya Indonesia yang ramah, sopan dan berkepribadian luhur.Di Banjarbaru beberapa waktu lalu tepatnya di lapangan Murjani tarian tidak etis yang sering dikenal sebagai seksi dancer ditampilkan dalam suatu acara promosi salah satu perusahaan rokok. Aksi tarian itu ditampilkan di depan anak-anak di bawah umur yang berjarak hanya beberapa meter saja.
Bukanlah sesuatu hal yang aneh ketika pihak yang seharusnya mengingatkan malah ikut menikmati tarian energik yang identic dengan busana minim dipertontonkan tanpa ada pengawasan ataupun peringatan bagi anak di bawah umur. Sebagian orang menganggap itu hanya sebagai hiburan.
Di mana letak pengawasan orangtua saat anak-anal yang harusnya berada di rumah malah dibiarkan berkeliaran bukan pada tempat dan waktunya?

Dalam tinjauan psikologi perkembangan, peran orangtua dibutuhkan dalam mendampingi dan memberitahu bagaimana mereka bisa menyesuaikan diri pada perubahan, perkembangan dan adanya perbedaan di dalam lingkungan mereka. Anak-anak tidak bisa dibiarkan lepas ke dunianya sendiri.
Logika yang muncul, jika lingkungan mereka tidak tepat maka anak-anak ini akan mendapat dampak negatif, baik perubahan psikologinya ataupun kepribadiannya. Memang benar anak dibebaskan untuk memilih apa yang menurutnya itu cocok untuk dirinya. Di sinilah orangtua wajib mengarahkan dan membimbing. Pembelajaran seni tari pada anak usia dini sangat berpengaruh terhadap pola perkembangan anak yang ditandai dengan perkembangan motoric kasar dan motoric halus, pola bahasa dan piker, emosi jiwa serta perkembangan social anak.

Di sekolah keprihatinan manakala keberadaan siswa didik kurang berminat terhadap seni budaya daerah, kata-kata yang terlontar dari mereka bahwa tari/lagu daerah itu kuno (ketinggalan jaman). Itulah persoalan yang menampar wajah dunia pendidikan saat ini. Apakah fakta tersebut bias dari program Ujian Nasional (UN) yang hanya menekankan factor pengetahuan (kognitif) belaka. Fakta keterampilan (psikomotor) kurang mendapat perhatian.

Padahal pelajaran tari bukan bertujuan untuk mempelajari sikap gerak saja, namun juga sikap mental, kedisiplinan, sehingga pendidikan tari itu menjadi media pendidikan. Dalam bukunya tentang pendidikan Ki Hadjar Dewantara menuliskan, tari anak-anak akan memberi pengaruh terhadap ketajaman pikiran, kehalusan rasa dan kekuatan kemauan serta memperkuat rasa kemerdekaan.
Dinas Pendidikan Banjarbaru KASI Kurikulum Drs Simum. MM saat ditemui di kantornya menerangkan untuk pelestarian budaya daerah di sekolah itu di pelajari dari kesenian tari, music daerah, bahasa hingga sejarah kedaerahan. Itu semua terangkum dalam pelajaran Muatan Lokal (Mulok).
Sekretaris Dinas Pendidikan Provinsi Herman Taupan di Banjarmasin menambahkan tidak hanya mulok, ekstrakurikuler pun menambah pengayaan pelestarian budaya daerah pada siswa didik di sekolah. Ajang perlombaan tari, music panting sering diadakan. Sekarang tergantung dari sekolah masing-masing sebab sekolah mempunyai hak otonomi untuk memajukan program mulok serta ekstrakurikuler tadi.

Di sisi lain, pihak sekolah kadang-kadang masih memandang kesenian dengan sebelah mata dibandingkan dengan bidang lain, seperti olahraga. Contoh nyata, pembangunan sarana olahraga jauh mengalahkan ketersediaan sarana berekspresi kesenian, bahkan juga mengalahkan kepentingan yang paling mendasar seperti perpustakaan.

Banyak sekolah yang membangun aula megah dan mahal, ruang kesenian tanpa bentuk berada di situ. Sesungguhnya, dalam buku petunjuk teknis mata pelajaran kesenian tertera kata “laboratorium” sebagai ruang praktek kesenian di sekolah. Tak hanya polemic kesenian di pendidikan formal sekolah tahun 2009 ajang budaya Internasional di Malaysia “Rampak Gendang Nusantara” menuai kekecewaan, 40 perwakilah dari Indonesia Sanggar Pesona Banjar sampai berita ini diterbitkan belum menerima sertifikat sebagai peserta tersebut oleh pihak yang bertanggung jawab di Indonesia sebagai pembimbing serta mengantar mereka di ajang itu.

Belajar dari Arsyad Indradi seorang budayawan Banjar, tubuh tua rentanya tak pernah menjadi kendala untuk terus berkarya melalui sastra-sastra indah dan mewariskan budaya luhur banjar kepada cucunya Putri Kurnia Pratiwi siswi SMA Negeri II Martapura serta anak didiknya di Sanggar Selendang Mayang. Sari, Baron, Tazki serta anak-anak Sanggar Selendang Mayang dengan penuh semangat berlatih tari Radap Rahayu serta Baksa Kembang di Musium Lambung Mangkurat.
Keceriaan, suka duka selalu mewarnai jejak langkah mereka dalam melestarikan seni tari klasik banjar di tengah maraknya seni tari modern sebagai idola kaum remaja saat ini. Mereka mengaku ini semua kami lakukan karena hobi, saat kami lakukan gerakan klasik ini kami merasa damai. Seni tradisional yang selama ini jauh dari kehidupan generasi muda dengan berbagai sebab-sebabnya yang telah diuraikan. Mulai dari arus globalisasi dan generasi muda yang cenderung apatis dan mengikuti arus, sehingga budaya asing yang terkesan praktis telah menjadi kiblat budaya mereka.

Bagaimanapun juga ajaran-ajaran seni tradisional daerah telah memberikan pemahaman moral yang luhur, dan memang sangat sesuai jika di aplikasikan dalam diri generasi muda. Tidak malukan kita dengan anak-anak kecil pada Sanggar Selendang Mayang yang melestarikan budaya daerah?

Rabu, 28 Desember 2011

MANINGAU NILAI SOSIAL BUDAYA DAN NILAI SENI BUDAYA BANJAR



Oleh : Arsyad Indradi

Sejak zaman Datu Nini baik Nilai – Nilai Sosial budaya dan Seni Budaya  Banjar sudah tertanan dalam masyarakat Banjar.
I. Nilai Sosial Budaya Banjar
 Nilai Sosial Budaya seperti keterampilan dan kerajinan yakni anyaman, masakan, batik, kamasan, ukir dan tatah. Anyaman dengan bahan tumbuhan purun yang menghasilkan tikar purun, bakul purun. Bahan paikat (rotan) yang menghasilkan bakul, lanjung, arangan gayak, bakul kayang ( tangkiding ), bakul pamasakan, butah, rambat, tangkitan bukit dan lain – lain. Daun nipah yang menghasilkan “tanggui“ ( tudung ), ketupat, kajang dan lain – lain. Atap rumbia yang bahannya dari daun rumbia. Dari bahan ijuk menghasilkan sapu ijuk dan tali ijuk. Demikan juga masakan berupa empat puluh satu macam kue, gangan asam, gangan balamak, gangan haliling, soto Banjar dan lain – lain. Batik Banjar berupa kain sasirangan, dinding airguci, tapih (sarung) wanita. Sasirangan adalah batik khas Kalimantan Selatan yang pada jaman dahulu digunakan untuk mengusir roh jahat dan hanya dipakai oleh kalangan orang-orang terdahulu seperti keturunan raja dan bangsawan. Proses pembuatan masih dikerjakan secara tradisional.
Masyarakat  Banjar  seperti  masyarakat  Banjarmasin, Nagara  dan Martapura yang juga sebagai  pengrajin  kamasan ( tukang perhiasan ) bahan emas, suasa dan perak. Hasil kerajinan itu berupa : Giwang (anying-anting)  seperti bonel ros barumbai, bonel air tetes, bonel air tetes barumbai dan lain-lain. Galang  ( gelang )  tangan  seperti  galang  baintan, galang rantai, galang rantai sulapit dan lain-lain. Galang batis ( kaki ) seperti  galang batis buntut cacing, galang batis malati, galang wancuh.Utas (cincin) seperti utas balah  paikat, utas mata satu asur wawaluhan, utas mata satu bagimus (polos), utas mata satu tusuk, utas ros parimata intan,  utas rantai, utas  baserong dan lain - lain. Kakalung  seperti  kakalung rantai sulapit, kakalung madaliun  barumbai, madaliun ros,  madaliun  mata  tiga, madalin mata satu dan lain-lain. Cucuk baju  seperti cucuk baju seribu  manis,  cucuk  baju  paniti,  cucuk  baju  daun basontek, cucuk baju  daun  baintan  dan  lain - lain.  Cucuk  konde  seperti  cucuk  konde kulipak katu, cucuk konde daun talu, daun  lima,  cucuk konde daun  seribu  manis, cucuk konde ros, cucuk konde daun baintan dan lain-lain.

Ada  hasil  kerajinan dari bahan kuningan  seperti  pakucuran/peludahan, sasanggan panginangan, celengan dan lain-lain. Ada hasil kerajinan tembikar seperti dapur, kapit, tajau halus dan besar, cocot ( sejenis ciret/teko ) dan lain – lain.
 Ukir dan tatah seperti dalam bentuk tatah surut (ukiran berupa relief);  tatah babuku (ukiran dalam bentuk tiga dimensi), tatah baluang (ukiran “bakurawang”) dan lain – lain.   
Nilai Sosial Budaya yang menjadi tempat – tempat objek wisata, di Tanah Banjar   banyak jumlahnya  di antaranya Pasar Terapung, pendulangan intan dan keindahan alam seperti Pulau Kambang, Gua Liang Hidangan, tempat keramat  dan lain – lain.
Pasar Terapung adalah pasar tradisional yang sudah ada sejak dulu dan merupakan refleksi sosial budaya sungai orang Banjar. Pasar yang khas lagi unik ini tempat melakukan transaksi  jual beli bahkan ada yang berupa barter di atas air dengan menggunakan jukung ( sampan ) yang berdatangan dari berbagai pelosok, membawa dagangan berupa lalapan ( sayur – sayuran ), buah – buahan, pancarakinan ( rempah masakan dan belah pecah ) juga makanan dan minuman.   Pasar Terapung hanya berlangsung pada pagi hari sekitar jam 05.00 hingga 07.00 setiap hari. Pasar terapung ini ada dua lokasi yaitu di Kuin wilayah Banjarmasin dan Lok Baintan wilayah Kabupaten Banjar.
Seperti juga di daerah lain, Kalimantan Selatan memikili tradisi budaya dan seni budaya.
Tradisi Budaya yang kental dalam masyarakat Banjar  seperti  upacara kehamilan, kelahiran, khitanan, perkawinan, kematian, baayun anak, mamalas banua/manyanggar banua, aruh ganal, badudus dan lain – lain.
Di sini akan “ditingau sakilaran “ mengenai tradisi baayun anak dan badudus.
a. Baayun Anak
Yang lebih menarik adalah menidurkan anak ini sang ibu sambil bernyanyi dengan suara merdu berayun-ayun atau mendayu-dayu.
Isi lirik ini, puji-pujian pada anaknya yang ”bungas langkar ” dan doa agar anaknya kelak kuat imannya dalam agama sampai akhir hayatnya.
Kalau tidak berupa syair atau pantun, sang ibu membaca salawat rasul atau ayat – ayat suci Al Qur’an.

Ayun Bapukung adalah menidurkan anak dengan cara sang anak didudukan dalam ayunan dibalut dengan kain tapih sebatas leher.
Ayunan untuk ”guring bapukung” tak bedanya dengan ayunan dengan posisi dibaringkan yaitu terbuat dari tapih bahalai atau kain kuning dengan ujung –ujungnya diikat dengan tali haduk ( ijuk ). Ayunan ini biasanya digantungkan pada palang plapon di ruang tengah rumah. Pada tali tersebut biasanya diikatkan Yasin, daun jariangau, kacang parang, katupat guntur, dengan maksud dan tujuan sebagai penangkal hantu – hantu atau penyakit yang mengganggu bayi. Menidurkan anak dengan bapukung  biasanya lebih cepat tertidur dari pada mengayun posisi berbaring.
Maayun anak ini terkadang diadakan pada acara Mauludan yakni tanggal 12 Rabiul Awwal. Dengan maksud agar mendapat berkah kelahiran Nabi Muhammad SAW
Pada perkembangannya, maayun anak ini menjadi sebuah tradisi budaya yang setiap tahun digelar dengan istilah “ Baayun Maulud” Baayun Maulud ini sungguh berisi pesan-pesan religiusitas, filosofis dan local wisdom ( kearifan local ).
Baayun Maulud ini setiap tanggal 12 Rabiul Awwal yakni menyambut dan memperingati Maulud Rasul, oleh masyarakat Desa Banua Halat Kecamatan Tapin Utara selalu mengadakan upacara Baayun Anak atau Baayun Maulud. Tradisi budaya ini mulai popular sejak tahun 1990-an.
Juga, Baayun Anak ini adalah salah satu agenda tahunan bagi Museum Lambung Mangkurat Banjarbaru Kalimantan Selatan. Yang lebih unik lagi pesta Baayun Anak ini bukan hanya baayun anak tetapi pesertanya juga baayun nenek dan kakek. Mereka sengaja ikut baayun karena nazar. Nazar ini karena sudah tercapai niat atau terkabul hajat seperti sudah naik haji, mendapat rejeki yang banyak atau untuk maksud agar penyakitnya hilang atau juga panjang umur.

2) Badudus
Setiap suku bangsa di Indonesia mempunyai adat budayanya masing- masing, ada yang berbeda dan ada juga hampir sama. Dalam kesempatan ini diperkenalkan adat yang ada di suku Banjar yang mendiami Tanah Borneo bagian selatan yakni  Kalimantan Selatan, yaitu Acara Badudus.

Badudus adalah acara mandi – mandi.. Acara ini ada tiga jenis, yaitu Badudus  Tian Mandaring, Badudus Pengantin Banjar, dan Badudus untuk Keselamatan.
a)  Badudus Tian Mandarin
Acara Badudus Tian Mandaring adalah acara Mandi – Mandi perempuan hamil pertama kali yang usia hamilnya Tujuh Bulan. Sesaji yang diadakan berupa kue – kue yang jumlahnya 41 macam. Minyak Likat Buburih adalah sebagai bahan Tapung Tawar. Air yang dimandikan berupa air yang berendam beraneka bunga sehingga air ini beraroma harum.
b) Badusus  Selamatan Tahunan
Acara Badudus merupakan tradisi masyarakat Banjar terutama sebagian masyarakat Amuntai Kabupaten Hulu Sungai Utara. Acara ini diadakan dua kali setahun yaitu acara Mandi-Mandi dilaksanakan pada pertengahan tahun Hijrah yaitu sekitar bulan Jamadil Akhir dan Selamatan Tahunan diadakan pada awal tahun Hijrah yaitu bulan Muharram . Masyarakat Amuntai sangat tebal kepercayaannya terhadap Legenda Lambung Mangkurat, bahwa raja-raja Negara Dipa seperti Empu Jalmika, Pangeran Suryanata, Pangeran Suryaganggawangsa dan lain-lainnya itu sampai sekarang masih hidup dan berada di alam gaib dan sewaktu-waktu mereka dapat diundang. Kepercayaan ini dianut secara turun temurun dan jika tidak dilaksanakan maka mengakibatkan malapetaka bagi keluarga mereka misalnya ada yang kurang waras atau kena penyakit.
Sesaji yang harus diadakan adalah 41 macam kue dan yang tidak boleh ketinggalan yaitu “ Bubur Habang Bubur Putih “, “ Kopi Pahit “, Cingkaruk Batu “, “ Rokok Jagung “, dan “ Minyak Likat Buburih “.
Serangkaian acara Badudus Selamatan Tahunan ini diadaakan lagu-lagu Badudus yang diiringi tetabuhan yang terdiri dari biola dan Tarbang Besar atau Tarbang Burdah. Ada beberapa repertoire dalam acara ini yang susunannya tidak boleh tertukar, yaitu :
Repertoire pembukaan adalah lagu Kur Sumangat, merupakan lagu mengundang roh – roh dari raja-raja yang gaib di tengah kepulan asap dupa dan kemenyan. Isi lagu adalah undangan dan ucapan maaf jika ada kesalahan dalam menyediakan sajian atau dalam pelaksanaan terdapat kekeliruan dan sebagainya.selesai lagu ini, diadakan acara Tapung
Tawar yang disebut Tatungkal dengan memercikkan minyak Likat Buburih di atas kepala pada yang dimandikan dan pada keluarga.  Repertoire yang kedua Lagu Girang –
Girang, pernyataan kegembiraan. Repertoire yang ketiga adalah lagu Mandung Mas Mirah, lagu untuk menyambut puteri – puteri yang diundang. Repertoire yang keempat Lagu Dundang Sayang, berfungsi sebagai penghibur pada para undangan yang hadir. Repertoire yang kelima adalah Lagu Tarabang  Burung,  lagu  menyambut  atau  menyongsong  para roh  –  roh yang datang. Repertoire yang terakhir yaitu Lagu Burung Mantuk, l;agu untuk menghantarkan pulang para roh – roh yang telah menghadiri upacara tersebut.
Tidak jarang dalam upacara Badudus ini banyak orang – orang yang hadir kesurupan. Setelah selesai Lagu Burung Mantuk dinyanyikan yang kesurupan tersebut sadar kembali. Fungsi penyanyi terkadang adalah juga sebagai pawang dan berperan sebagai pemimpin acara.
c) Badudus Pengantin Banjar
Acara Badudus Pengantin Banjar adalah suatu acara adat masyarakat Banjar yang sampai sekarang ini masih tumbuh dan hidup dalam masyarakat Banjar. Tempo dulu Badudus merupakan acara penobatan seorang Raja. Acara ini hanya diselenggarakan oleh keturunan raja – raja saja yakni keturunan dari raja – raja Kerajaan Negara Dipa dan Kerajaan Daha, dan yang dapat menghadiri acara tersebut adalah hanya terbatas kepada seluruh keluarga saja. Setelah tidak ada lagi kerajaan di Tanah Banjar (tahun 1860 ) maka acara ini bergeser menjadi acara mandi – mandi Pengantin Banjar. Penyelenggaraan Badudus dilaksanakan oleh kedua pengantin. Dalam acara ini disediakan sesaji 41 macam kue dan minyak likat buburih yaitu bunga – bungaan yang dimasak dengan minyak kelapa dan lilin serta ditambah dengan minyak wangi. Acara badudus ini umumnya dimeriahkan dengan menyuguhkan lagu – lagu Banjar.
Sungguh, nilai – nilai Seni Budaya Nasional sangatlah “ Sugih (kaya) “ karena berakar dan bersumber dari nilai – nilai Seni Budaya Daerah. Salah satunya adalah dari Tanah Banjar.

II. Nilai Seni Budaya Tanah Banjar tersebut antara lain adalah musik, tari, sastra dan teater.
1)  Seni Musik
         Seni Musik Tanah Banjar terdiri dari gamelan Banjar dan musik tradisional Banjar.  
a) Gamelan Banjar
Gamelan Banjar ini dahulunya hidup dan berkembang di keraton Banjar, namun sekarang ini tidak ada lagi keraton Banjar maka musik ini hidup di kalangan rakyat Banjar.  Gamelan Banjar umumnya sebagai pengiring tarian seperti wayang gong, wayang kulit  dan tarian klasik Banjar.
Perangkat gamelan Banjar yang paling tua adalah sepasang gamelan Banjar yang bernama “ Simanggu Kacil dan Simanggu Basar “. Gamelan Simanggu Kacil berada di Museum Nasional Jakarta sedang Simanggu Basar berada di Museum Lambung Mangkurat Banjarbaru Kalimantan Selatan.
b) Musik Trasional Banjar di antaranya adalah Musik Kentung dan Musik Panting.
Musik Kentung ( instrument bambu) ini berasal dari daerah Kabupaten Banjar yaitu di desa Sungai Alat Kecamatan Astambul dan kampung Bincau Kecamatan Martapura.  Masa dahulu alat musik ini dipertandingkan. Dalam pertandingan ini bukan saja pada bunyinya, tetapi juga hal-hal yang bersifat magis, seperti kalau dalam pertandingan itu alat musik ini bisa pecah atau tidak dapat berbunyi dari kepunyaan lawan bertanding.
Musik kentung termasuk alat musik pentatonis, boleh dikatakan pula sejenis alat musik perkusi. Karena cara membunyikannya dihentakkan pada sebuah potongan kayu yang bundar. Alat musik kentung ini berjumlah 7 buah dan masing-masing mempunyai nama, yaitu : Hintalu randah, hintalu tinggi, tinti pajak,tinti gorok,pindua randah, pindua tinggi dan gorok tuha.
Musik Pating adalah seperangkat alat musik yang terdiri dari : Babun (gendang), Gong, Biola, suling dan Panting. Panting ini bentuknya seperti gitar atau gambus tapi bentuknya agak kecil. Musik Panting umumnya untuk mengiringi lagu – lagu Banjar.

2) Seni Tari Banjar.
Seni Tari Banjar ada beberapa jenis yakni Tari Kelasik Banjar seperti Tari Baksa Kembang, Baksa Panah, Baksa Lilin, Baksa Dadap, Baksa Tameng, Radap Rahayu, Tari Topeng Panji, Tari Topeng Sekartaji, Tari Topeng Kelana dan lain – lain.  Tari Tradisional (rakyat) seperti Tari Tirik kuala, Tirik Lalan, Tari Japin Kuala, Japin Sisit, Tari Kuda Gepang dan Tari Wayang Gong. Tari  Kreasi Baru seperti Mandulang Intan,
Tari Semangat Ratu Zaleh, Maiwak, Ambung Gunung dan lain – lain.  Tari Pedalaman adalah tarian yang ada di daerah pedalaman Kalimantan Selatan ( suku Bukit ) seperti Tari Giring-Giring, Tari Gelang Bawu, Tari Gintur dan lain – lain
3)  Seni Sastra
Seni Sastra di Tanah Banjar ada dua bagian yaitu Sastra Tutur dan Sastra Non Tutur ( tertulis ).
1) Sastra Tutur seperti Bakisah, Lamut, Madihin dan Mantra.
A) Bakisah
Bakisah umumnya tidak memerlukan naskah. Baik pengantar kisah atau pun dialog-dialog dibawakan, mengandalkan keterampilan berimpropisasi. Tema-tema yang diangkat terkadang fiksi tetapi ada juga yang terjadi dalam masyarakat. Pangisahan manakala melakonkan tokoh-tokoh dalam kisah, penonton benar-benar larut dalam arus plot dan karakter sang tokoh. Bilamana adegan sedih, gembira, dendam, humor atau lainnya, penonton larut ke dalamnya.
Banyak sari toladan dari ”kisah” baik mengenai adat istiadat, etika estetika hidup, pendidikan, keagamaan, patriotisme yang terkandung dalam kisah. Kalau dibandingkan propertis ( hand dan setting ) dan lightingnya antara teater monolog, bakisah sangat sederhana dan bersahaja namun Pangisahan mampu menghidupkan suasana.
Bakisah ada beberapa macam yakni Bapandung, Dundam, Lamut, Andi-Andi, Madihin dan Mantra.
a)Bapandung        
Bapandung lahir di Desa Muara Munign kabupaten Tapin. Tokoh-tokoh yang ada di dalam cerita, dimainkan dengan menirukan suara, tingkah laku seseorang, dan sebagainya.        
 b)Dundam
         Bakisah dengan prosa lirik, berpantun-pantun.
Lagunya lebih dekat dengan lagu mantra. Cerita adalah tokoh legenda orang Dayak (Bukit) dalam suatu kelompok. Ada hubungan cerita dengan etnis Banjar atau dengan kerajaan Banjar. Berdundam berada di suatu tempat yang berlampu remang-remang. Media untuk bercerita adalah sebuah gendang atau tarbang.yang dipukul berirama mengiring lagu pendundam bercerita.
         c)Lamut
       Ada yang mengatakan bahwa lamut diambil dari nama seorang tokoh cerita di dalamnya, yaitu Paman Lamut seorang tokoh yang menjadi panutan, sesepuh, baik dilingkungan kerajaan atau pun masyarakat seperti halnya Semar dalam cerita wayang.Cerita dalam Lamut menurut pakem yang ada walau tak tertulis. Cerita yang dikenal masyarakat Banjar yakni cerita tentang percintaan antara Kasan Mandi dengan Galuh Putri Jung Masari. Kasan Mandi adalah putera dari Maharajua Bungsu dari Kerajaan Palinggam Cahaya, sedangkan Galuh Putri Jung Masari adalah putri dari Indra Bayu, raja dari Mesir Keraton. Kasan Mandi kawin dengan Galuh Putri Jung Masari melahirkan seorang putra bernama Bujang Maluala dengan pengikut setianya  paman Lamut bersama anak – anaknya yaitu Anglung, Anggasina dan Labai Buranta.
Lamut befungsi sebagai upacara pengobatan anak yang sakit, bisa juga berfungsi sebagai tontonan masyarakat. Pelamutan duduk berila dengan memegang sebuah gendang budar yang dikenal dengan nama tarbang. Pelamut berbaju Taluk balanga ( Koko ) memakai sarung palekat, berkopiah hitam. Penonton duduk santai lesehan.
        d)Andi-Andi
        Berkisah tentang legenda, dongeng dan sebagainya disaat orang brgotong royong, mengetam padi di sawah. Fungsinya menghibur orang bekerja. Ceritanya dari syair-syair, tutur candi,dan dongengan.
e) Madihin
Ada yang berpendapat bahwa madihin berasal dari kata madah, yaitu sejenis puisi lama dalam sastra Indonesia. Madah merupakan syair yang mempunyai rima yang sama pada suku akhir kalimat. Madah mengandung puji - pujian, nasehat atau petuah. Tetapi dalam perkembangannya humor atau lulucuan, sindiran yang sehat, tak ketinggalan
disuguhkan oleh Pamadihinan ( orang yang membawakan madihin ) sebagai bumbu. Hand Proferti yang digunakan adalah tarbang yang bentuknya lebih kecil dari Tarbang Lamut.
f) Mantra
Mantra adalah ujar-ujar yang merupakan sumber kekuatan spritual leluhur pusaka Banjar ( Kalimantan ). Pada hakikatnya adalah suatu permohonan kepada yang Maha Kuasa yang disampaikan dengan ujaran yang khas dan dengan gaya bahasa yang khas pula dengan keyakinan yang penuh bagi penggunanya.
        2) Sastra Non Tutur ( Tertulis )
Sastra Tertulis ini ada yang dinamakan Syair, Gurindam, Pantun dan Puisi ( Sajak ).
A) Syair
Salah satu bentuk Sastra Banjar adalah “ Syair “. Seperti juga syair dikesastraan Indonsia Lama, Sastra Banjar  Syair  mempunyai bentuk empat baris setiap baitnya, persajakannya aa-aa dan isinya mengandung hikayat, sejarah, nasihat, pendidikan, percintaan, keagamaan dan dongeng, dan munculnya syair setelah adanya pengaruh agama Islam.  Tetapi bedanya media yang digunakan Syair Kesastraan Indonesia Lama, Bahasa Indonesia  sedangkan Sastra Banjar Syair, Bahasa Banjar. Disamping itu banyak syair – syair dalam Sastra Banjar ditulis oleh pengarangnya dengan menggunakan tulisan Arab. Sayangnya syair- syair yang ditulis dengan tulisan Arab ini sampai sekarang belum banyak ditulis dengan tulisan Latin. Akibatnya syair – syair Sastra Banjar ini hanya merupakan Koleksi Filologika Museum Negeri Kalsel di Banjarbaru.
Beberapa syair Banjar : Syair Sipatul Golam, Syair Ganda Kasuma, Syair Ringgit, Syair Tajul Muluk, Syair Surat Tarasul, Syair Siti Jabidah, Syair Indra Bumaya, Syair Khabar Kiamat, Syair Panji Kasmaran, Syair Brahma Sahdan, Syair Ratu Kuripan “ dan lain – lain.
B) Gurindam
         Gurindam adalah syair yang terdiri dari seuntai yang isinya nasihat, petuah dan lain – lain.
C) Pantun
           Masyarakat Banjar tempo dulu (bahari) sangat gemar berpantun sampai sekarang ini. Yang lebih menggembirakan bukan saja orang – orang  tua tetapi juga kaula muda Tanah Banjar masih tetap menggemari pantun bahkan akan tetap melestarikannya.
Struktur pantun Banjar seperti halnya pantun Indonesia lama atau pantun Melayu yang bersetruktur : baris pertama dan kedua adalah sampiran, baris ketiga dan keempat adalah isi. Jumlah suku katanya baris pertama sama dengan baris ketiga dan baris kedua sama dengan baris keempat. Atau jika terjadi selisih suku katanya tidak lebih dari dua suku kata saja.  Atau dari baris pertama, kedua, ketiga dan keempat sama jumlah suku katanya. Rima persajakan pada pantun Banjar ada yang berima   (a),(b),(a),(b). dan ada pula yang berima (a),(a),(a),(a)

Terkadang pantun Banjar ada yang unik, mirip dengan syair yakni baris – barisnya hampir tidak dapat dibedakan sampiran dan isi dan rima sajaknya  (a),(a),(a),(a). Yang lebih unik lagi apabila pantun ini merupakan lirik dari lagu atau nyanyian yakni terjadi pengulangan baris sehingga menimbulkan bunyi dan irama yang harmonis.
Pantun Banjar ada lima ragam : 1) Ragam Pantun Banjar Biasa :  Seperti Pantun Agama, Pantun Adat Istiadat, Pantun Badatang, Baturai Pantun, Panglipur, Papujian, Balolocoan, Marista, Pantun Insyaf,  Pantun Bacucupatian,  Pantun Urang Anum. 2) Ragam Pantun Banjar Pantun Tarasul 3) Ragam Pantun Banjar Sebagai Lirik Lagu atau Nyanyian 4) Ragam Pantun Banjar Sebagai Pengiring Tarian 5) Ragam Pantun Wayahini.
D) Puisi ( Sajak )
Puisi ( Sajak ) termasuk kesastraan baru dan kesastraan modern.
 4) Teater
Teater ada dua  : Teater Modern dan Teater Tradisional.
1) Teater Modern : Teater dari daerah/negeri lain.
2) Teater Tradisional Banjar yaitu Teater yang khas daerah Banjar yakni : Mamanda.
Salah satu teater tradisional Kalsel yang masih bisa bertahan hidupnya adalah “ Mamanda “. Mengapa demikian ? Sebab cerita dari Mamanda memang mengasyikkan tak kalah dengan cerita sinetron atau film. Walau pun tokoh-tokoh dalam Mamanda “ baku “ namun dapat ditambah tokoh-tokoh lain dengan cerita yang lain, artinya cerita mamanda dapat diciptakan sesuai dengan perkembangan jaman. Apa lagi durasi pertunjukkan mamanda jang semula semalam suntuk sekarang disesuaikan dengan permintaan, maksudnya bisa durasinya 3 jam atau 5 jam. Istemewanyanya Mamanda, bisa dimainkan dengan sebuah naskah yang utuh seperti terater modern atau hanya dengan mengatur cerita seperti garis besar cerita, babakan dan plot, sedangkan dialog dikenal dengan istilah impropisasi. Pemain – pemain Mamanda memang dikenal keahliannya berimpropisasi. Tokoh-tokoh mamanda yang baku itu adalah Raja, Mangkubumi, Wazir, Perdana Menteri,Panglima Perang, Harapan Pertama, Harapan kedua, Khadam, Permaisuri, Anak Raja ( bisa putri atau Pangeran ). Tokoh-tokoh lain sesuai cerita misalnya Raja dari Negeri lain, Anak Muda, Perampok,Jin, Belanda, atau nama dari daerah lain ( Jawa, Cina, Batak, Madura atau lainnya ). Seperti juga di teater modern, sebelum pertunjukkan dimulai akan dibacakan sinopsisnya, di mamanda dipaparkan lewat “ Baladon “. Baladon adalah tutur cerita dengan dibawakan berlagu dan gerak tari. Cerita mamanda bisa berkolaburasi dengan seni tari atau musik. Yakni setelah kerajaan selesai bersidang maka akan ditampilkan pertunjukkan tari dengan maksud menghibur raja dengan segenap aparat kerajaan atau ketika kerajaan menang perang diadakan pertunjukkan hiburan tari atau musik panting.
Asal mula Mamanda adalah Badamuluk ketika rombongan bangsawan Malaka ( Abdoel Moeloek atau Indra Bangsawan, 1897 M ) yang dipimpin oleh Encik Ibrahim dan isterinya Cik Hawa, menetap di Tanah Banjar beberapa bulan mengadakan pertunjukkan. Teater ini begitu cepat populer di tengah masyarakat Banjar. Setelah beradaptasi, teater ini melahirkan sebuah teater baru bernama “ Mamanda “. Mamanda mempunyai pengertian “sapaan” kepada orang yang dihormati dalam sistem kekerabatan atau kekjluargaan.
Mamanda mempunyai dua aliran. Pertama : Aliran Batang Banyu. Yang hidup di pesisir sungai daerah Hulu Sungai yaitu di Margasari. Sering juga disebut Mamanda Periuk. Kedua : Aliran Tubau bermula tahun 1937 M. Aliran ini hidup di daerah Tubau Rantau. Sering dipentaskan di daerah daratan. Aliran ini disebut juga Mamanda Batubau. Aliran ini yang berkembang di Tanah Banjar.
Pertunjukkan Mamanda mempunyai nilai budaya Yaitu pertunjukkan Mamanda disamping merupakan sebagai media hiburan juga berfungsi sebagai media pendidikan bagi masyarakat Banjar. Cerita yang disajikan baik tentang sejarah kehidupan, contoh toladan yang baik, kritik sosial atau sindiran yang bersifat membangun, demokratis, dan nilai-nilai budaya masyarakat Banjar.
Bermula, Mamanda mempunyai pengiring musik yaitu orkes melayu dengan mendendangkan lagu-lagu berirama melayu, sekarang beralih dengan iringan musik panting dengan mendendangkan Lagu Dua Harapan, Lagu Dua Raja, Lagu Tarima Kasih, Lagu Baladon, Lagu Mambujuk, Lagu Tirik, Lagu Japin, Lagu Gandut , Lagu Mandung-Mandng, dan Lagu Nasib.
Dari uraian singkat di atas, ada beberapa peninggalan leluhur ini satu per satu sudah mulai terlupakan dan tenggelam.  Masyarakat Banjar banyak yang tidak mengenal atau tidak tahu lagi pusaka leluhurnya  yang seharusnya  perlu dijaga, dilestarikan bahkan dikembangkan. Seperti upacara Badudus, baturai pantun dalam upacara perkawinan ( Badatang ), Manyanggar Banua, Bakisah,Tari – tarian terutama tari – tari kelasik seperti tari topeng atau tarian - tarian yang kental dengan akar budayanya. dan lain – lain,  
Meskipun peninggalan leluhur itu masih ada, namun hidupnya sangat memperihatinkan dan sangat dikhawatirkan bahwa derasnya arus Era globalisasi dan modernisasi  akan mengikis habis pusaka leluhur ini maka perlu upaya – upaya agar pusaka leluhur itu dapat terus dipertahankan.
         Tidak saja seminar, diskusi, kongres budaya, Aruh Sastra, pelatihan yang terus diselenggarakan tetapi juga  Pemerintah daerah, seniman budayawan, Lembaga Budaya Banjar, Dewan Kesenian dan pihak – pihak yang terkait lainnya setiap tahun  mengadakan festival dan pergelaran seperti atraksi adat Banjar, festival Pasar Terapung,  musik tradisional, teater tradisional, tari – tarian Banjar,  pameran bersejarah, pusaka bertuah, benda budaya serta berbagai kerajinan Banjar.
         Upaya – upaya ini diharapkan dapat menumbuhkan suatu gerakan masyarakat Banjar pendukung pusaka leluhurnya agar gigih dalam menjaga, mengembangkan dan melestarikannya secara bertanggung jawab di Tanah Banjar. Semoga ***